Cara Mengasah Keterampilan Anak Autis di Rumah

Parenting  

Banyak orang tua dari anak dengan gangguan autisme (autism spectrum disorder) menyampaikan keluh kesahnya ke saya. Mereka bercerita betapa mahalnya biaya yang dikeluarkan untuk terapi di rumah sakit, klinik, atau pusat-pusat terapi.

Faktanya memang demikian. Sekeras-kerasnya saya menyemangati mereka untuk tetap optimistis dan berserah diri pada Allah, bahwa rezeki anak itu bukan di tangan kita, hasilnya tak selalu sama. Banyak orang tua anak autisi ‘nyerah duluan’ dan memutuskan tidak membawa anaknya ke tempat terapi lagi. Mereka hanya menerapkan perawatan berbasis rumah seorang diri.

Saya hormati pilihan mereka. Langkah selanjutnya biasanya saya menyarankan orang tua dari anak istimewa ini untuk mengikuti seminar dan pelatihan yang banyak diadakan dokter ahli, klinik, dan pusat terapi khusus autisme.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Anak autisi yang menjalani perawatan rumahan mungkin tidak menerima banyak intervensi jika orang tuanya tidak memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan tentang penanganan anak dengan gangguan spektrum kompleks. Pertanyaan sering timbul, bisakah orang tua mengajar anak autis secara manual di rumah?

Jawabannya tentu saja bisa. Namun, mengajari anak-anak berkebutuhan khusus ini bukannya tanpa tantangan. Apalagi anak autisi yang masih kecil, balita, yang belum bisa menjelaskan bagaimana perasaan mereka atau emosi mereka pada waktu tertentu.

Tulisan saya kali ini semoga bisa membantu keluarga atau pengasuh anak autisi di rumah atau di tempat penitipan anak supaya bisa mengelola situasi secara efektif.

Saya merangkum setidaknya tujuh aturan sederhana untuk mengajar anak autis di rumah.

1. Siapkan ruangan kelas yang mendukung

Anak autisi mudah terdistraksi dengan lingkungan sekitar. Sebagian besar mereka sensitif terhadap visual, baik itu warna, gambar, dan aneka pernak-pernik. Oleh sebabnya saya menyiapkan ruang kelas khusus, meski ukurannya tidak luas untuk anak saya beraktivitas.

Putra saya, Rashif setiap hari dengan total enam jam per hari beraktivitas di ruang kelasnya ini. Dinding ruangannya dicat putih atau biru, bangku dan meja kayu basic dengan warna senada, tidak ada tempelan gambar atau stiker di dinding, dan semua teaching material disimpan di dalam lemari khusus dalam ruangan.

Sebisa mungkin hindari hal-hal yang bisa mengganggu fokus anak, misalnya suara televisi, nada dering ponsel, atau musik. Jika kita tidak bisa menyiapkan ruang khusus untuk anak, sulap kamar anak menjadi ruang kelas, tentunya dengan meminimalisir hal-hal yang memicu anak terdistraksi tadi.

2. Buat rutinitas dengan aktivitas konsisten dan terstruktur

Orang tua bisa meramu kurikulum untuk anaknya di rumah. Biasanya ini didapatkan orang tua dari pelatihan. Fokusnya biasanya pada tiga hal, yaitu bahasa, kognitif, dan keterampilan kemandirian.

Anak autis dikenal rigit dan saklek, sehingga sangat disiplin dengan waktu dan jenis aktivitas. Jadi, cobalah kita melakukan aktivitas rutin mereka pada jam yang sama. Patuhi itu sebisa mungkin.

Anak autis memerlukan aktivitas yang konsisten dan terukur/ Foto Ilustrasi: Pexel

Jika anak biasanya menggambar pukul 09.00 WIB, maka lakukan setiap hari pada jam tersebut. Sekiranya kita mau mengubah jadwal mereka, terapkan secara bertahap untuk mengurangi dampaknya.

Jadwalkan tidur siang di jam yang sama, istirahat malam di jam yang sama, termasuk latihan toilet training per 30 menit bagi autisi yang belum mandiri.

3. Gunakan instruksi verbal yang jelas dan singkat

Hal penting yang perlu kita ingat adalah anak autis berjuang keras mencerna instruksi. Mereka kerap kesulitan memproses percakapan verbal yang panjang. Gunakan gaya kalimat sama, setiap hari untuk mempertajam fokus mereka.

Contohnya, instruksi 'LIHAT' dengan suara jelas untuk menarik perhatian anak pada lawan bicara. Lakukan maksimal tiga kali. Jika anak tidak menoleh, lakukan prompt dengan menyentuh dagu anak atau memutar pelan kepala anak agar menatap mata lawan bicara.

Gunakan kalimat-kalimat pendek untuk menyampaikan istruksi pada anak. Saya contohkan, dari pada mengatakan “Rashif, ayo ambil gelasnya dan minum yang banyak ya,” lebih baik cukup mengatakan, “Ambil gelas lalu minum!”

4. Berikan anak waktu ekstra untuk memproses perintah

Kesabaran adalah syarat utama mengajari anak autis berbagai keterampilan. Saat kita menyampaikan instruksi, misalnya dengan mengatakan, "Ambil gelas lalu minum," tunggu maksimal lima detik anak merespons perintah dan melakukan instruksi mengambil gelas, kemudian minum air dari dalam gelas tersebut.

Jika setelah tiga kali instruksi anak tidak kunjung merespons, maka kembali kita berikan bantuan atau prompt. Caranya, kita arahkan tangan anak untuk mengambil gelas, kemudian minum.

5. Siapkan demonstrasi visual

Anak dengan spektrum autisme kerap kesulitan memproses bahasa. Oleh sebabnya kita perlu menyiapkan demonstrasi visual dan dan teaching material alias alat bantu belajar.

Demonstrasi visual ini bisa dari gestur tubuh kita, gerakan-gerakan tubuh ketika berbicara, atau objek berupa kartu bergambar dan benda tiga dimensi.

Teaching material ini menjadikan pemahaman anak jauh lebih baik. Contohnya, ketika kita memperkenalkan hewan gajah, maka tidak cukup dengan deskripsi gajah adalah hewan besar berbelalai panjang, melainkan kita juga memperlihatkan gambar gajah, bila perlu boneka gajah.

Kartu bergambar, salah satu teaching material untuk anak autis/ Foto Ilustrasi: Pexel

Ketika anak mengekspresikan emosi lewat bahasa itu sulit, kita bisa menggunakan kartu flash emosi untuk membantu anak mencocokan kata-katanya dengan perasaannya.

6. Latihan berkomunikasi verbal

Sisihkan waktu secara khusus untuk melatih anak autisi berbahasa verbal. Fokus pada nada bicara dan suku kata bermanfaat.

Kita juga bisa menggunakan alat dukung tambahan, seperti kartu flash huruf yang terdiri dari potongan-potongan suku kata.

Contohnya, saat kita mengajarkan kata 'papa' pada anak. Selain mulut kita yang verbal, sediakan juga dua kartu dengan potongan suku kata 'pa' dan 'pa.'

Identifikasi kemampuan imitasi vokal yang sudah dikuasai anak. Misalnya, anak sudah bisa bilang ba, bu, pa, pu, ja, ta, hu. Maka kita buat kombinasi kata dari vokal yang sudah dikuasai anak, misalnya pa-pa, ta-hu, ba-u, ba-ju, dan sebagainya.

7. Siapkan reward untuk anak

Pemberian imbalan atau reward untuk autisi selama mendapatkan penanganan di rumah harapannya meningkatkan respons benar anak saat mendengarkan instruksi. Beberapa hal yang perlu kita perhatikan saat memberikan reward adalah:

· Jenisnya harus cukup banyak supaya anak tidak cepat bosan belajar di kelas.

· Reward bisa berupa makanan, mainan, gestur tubuh, taktil atau sentuhan, hingga reward sosial, berupa pujian positif dengan nada menyenangkan.

· Reward hendaknya berlaku eksklusif. Sedapat mungkin hanya diberikan saat jam anak menjalani terapi atau latihan. Kalau anak sudah di luar kelas atau tidak terapi, reward tersebut hendaknya disimpan dan diberikan lagi keesokan harinya.

Anak autisi umumnya bermasalah di tiga bidang utama, yaitu bahasa, kognitif, dan keterampilan mandiri. Intervensi di tiga bidang terebut menurut saya pilihan terbaik yang bisa dilakukan orang tua di rumah. Selamat mencoba, tetap sabar, dan terus berdoa.

Berita Terkait

Image

Tes Covid-19 untuk Remaja Penyandang Autisme

Image

Mengapa Anak Autis Lebih Banyak Laki-Laki Ketimbang Perempuan?

Image

Tak Perlu Aneh Melihat Anak Autis

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Istri dan ibu tiga anak, merangkap blogger, dan content writer. Sembilan tahun pernah bekerja sebagai jurnalis di salah satu media nasional.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image