Tes Covid-19 untuk Remaja Penyandang Autisme

Parenting  


Harus saya akui tes Covid-19 salah satu pengalaman sangat tidak menyenangkan, bahkan bagi mereka yang memiliki batas ambang rasa sakit yang tinggi.

Tes dan intervensi medis yang menegangkan sejak dulu bisa memengaruhi seseorang secara psikologis. Kita ambil contoh, zaman sekarang masih banyak anak-anak, bahkan orang dewasa tidak mau menjalani prosedur medis yang melibatkan jarum suntik, seperti vaksinasi atau imunisasi. Alasannya ya karena pengalaman tidak mengenakkan masa kecil tadi.

Bisa dibayangkan bagaimana penyandang autisme (autisi) menjalani tes serupa, misalnya swab PCR test sementara mereka memiliki indra-indra yang tergolong sensitif, bahkan sebagian sangat sensitif? Jelas ini menjadi ujian cukup menantang.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Tes Covid-19 pada remaja (ilustrasi)/ Foto: Pexels

Lalu, dukungan seperti apa bisa kita atau orang tua berikan untuk membantu autisi yang perlu menjalani tes Covid-19?

Pagi tadi saya berbincang dengan ER, seorang dokter sekaligus ibu dari autisi dewasa berusia 19 tahun berinisial N. Saat ini N sedang menjalani terapi Applied Behavior Analysis (ABA) dan Biomedical Intervention Therapy (BIT) di KIDABA, di bawah pengawasan dr Rudy Sutadi.

Dokter ER menceritakan bagaimana akhirnya beliau sukses membiasakan putri keduanya yang istimewa menjalani tes Covid-19 tanpa perlawanan. Hal pertama yang dilakukan adalah memberi contoh dan melakukan pembiasaan pada anak di rumah.

Dokter ER kembali melakukan hal sama beberapa kali setelah itu, sembari mengulang pernyataan sama, "tidak apa-apa." Alhamdulillah N mau mengerti perkataan ibunya dan menjadi terbiasa karena pengulangan tadi.

Dokter yang bekerja di salah satu kementerian ini mengakui orang tua dengan anak spesial memerlukan waktu lebih untuk memperkenalkan anak istimewa mereka dengan hal-hal baru. Dokter ER bersyukur putrinya termasuk yang cepat beradaptasi dengan hal-hal yang mungkin menjadi momok bagi autisi, seperti pemeriksaan gigi dan mulut, tes Covid-19, hingga belajar kebersihan saat menstruasi.

Rahasia keduanya adalah menjaga diet komprehensif mulai dari casein-free, gluten-free, sufar-free, corn-free, dan soya-free diet. Berikutnya low phenol diet, diet elektronik, diet bahan kimia, dan melakukan rotasi serta eliminasi makanan.

Ketiga, dr ER memperkenalkan hal-hal baru tersebut kepada orang-orang terdekat anak lebih dulu. Dalam hal ini dr ER melakukan hal sama pada dirinya, suaminya, juga dua putra-putrinya yang lain yang merupakan saudara kandung N.

Pemeriksaan untuk mendeteksi infeksi virus corona dan variannya umum dilakukan dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) atau tes usap. Petugas medis akan mengambil sampel berupa lendir dari hidung.

Anak autisi nantinya diminta mendongakkan kepala untuk diambil cairan hidungnya dengan cotton bud panjang. Petugas memasukkan alat tersebut ke hidung hingga nasofaring.

Setelah cotton bud tadi masuk, petugas akan menggerakkan alat swab dengan cara memutarnya beberapa kali di dalam hidung supaya lendir di nasofaring tadi menempel pada alat swab. Begitu selesai, alat tersebut akan ditarik keluar dari dalam hidung. Proses terakhir ini menimbulkan rasa kurang enak luar biasa.

Masalahnya adalah anak-anak yang belum terbiasa akan merasa tersiksa dengan pengambilan lendir yang sebetulnya hanya berlangsung beberapa detik saja. Ketika anak kita akhirnya menggoyangkan tubuhnya, terlebih menggeleng-gelengkan kepalanya, kemungkinan besar rasa sakit yang dirasakan semakin signifikan.

Cara keempat adalah menyiapkan narasi menarik bagi anak. Gambarkan pada anak urutan proses seperti apa yang akan mereka hadapi, misalnya, masker dibuka, dokter atau perawat datang, alat swab akan dimasukkan ke hidung mereka, alat swab akan dikeluarkan dari hidung mereka, kemudian mereka mencuci tangan setelah keluar ruangan, dan duduk manis menunggu hasil tes. Ini karena anak autisi termasuk tipe rigit dan memerhatikan urutan aktivitas.

Menahan tubuh anak supaya tidak bergerak, menurut saya malah membuat tes Covid-19 ini lebih sulit untuk ke depannya. Keluarga yang kerap melakukan perjalanan udara misalnya, tidak mungkin terus menerus melakukan hal sama.

Jauh lebih baik memberi pemahaman pada anak autisi kita dengan bahasa mereka. Contoh, "Ayo tegakkan kepala seperti tentara," atau "Ayo pura-pura membeku seperti Elsa."

Kita juga bisa memasangkan jaket, rompi, atau baju tebal untuk anak spesial kita yang memberi efek tekanan lebih pada tubuhnya. Ini biasanya menenangkan bagi sebagian besar anak autisi.

Ketika pengujian tidak mungkin dilakukan, sebab bagaimana pun beberapa anak autisi mungkin benar-benar tidak bisa menolerir tes Covid-19, bahkan setelah kita berusaha membuat persiapan cukup.

Sekiranya ini masalahnya, sangat penting untuk terus berbicara pada dokter umum atau dokter anak tentang gejala yang dimiliki anak kita. Mereka akan memutuskan apakah prosedur ini diharuskan atau tidak.

Tidak bisa juga? Ganti moda transportasi dari jalur udara menjadi jalur darat, yaitu kendaraan pribadi, atau keep stay at home alias #dirumahaja.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Istri dan ibu tiga anak, merangkap blogger, dan content writer. Sembilan tahun pernah bekerja sebagai jurnalis di salah satu media nasional.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image