Beda Tantrum Anak Autisi dengan Anak Normal

Parenting  
Tantrum anak autisi bisa dipicu overstimulasi di otak
Tantrum anak autisi bisa dipicu overstimulasi di otak

Orang tua anak dengan gejala autisme pasti sudah akrab dengan tantrum. Tiba-tiba kita melihat anak menggelepar di lorong supermarket. Beberapa menit kemudian anak berlari tak tentu arah sambil memukul-mukul kepala dan mengepak-ngepakkan tangan.

Saya pun demikian. Jauh hari sebelum mengetahui salah satu putra kembar saya memiliki autism spectrum disorder (ASD), saya menyaksikan tantrum pertamanya saat kami berbuka puasa di sebuah restoran pusat perbelanjaan di Denpasar.

Semua orang pasti tahu suasana keramaian dalam mal. Orang berlalu lalang dari kanan, kiri, depan, belakang. Suara musik bergema di mana-mana, ditambah panggilan bising mikrofon dari berbagai arah. Agaknya anak saya waktu itu stres dan akhirnya mendadak tantrum sambil menggigiti saya berulang kali.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Tak terhitung sudah berapa jejak gigitannya di tubuh saya, mulai dari leher, bahu, pipi, lengan atas, tangan, jari, bahkan perut dan paha saya. Jika Anda adalah orang tua dari anak dengan gejala perilaku sama, tetapi tidak tahu apakah tantrum anak kita normal atau tidak, maka silakan baca terus tulisan ini.

Tantrum Anak Normal VS Anak Autisi

Tantrum anak normal biasanya terjadi ketika kita menolak apa yang anak inginkan atau apa yang anak hendak lakukan. Intinya, kita bisa dengan mudah menebak penyebab tantrum anak normal.

Hal sebaliknya terjadi pada anak autisi. Tantrum mereka lebih sering terjadi tanpa sebab, atau faktor penyebabnya cuma hal kecil, tetapi reaksi anak sungguh berlebihan.

Tantrum anak autisi yang aneh ini pertama kali saya lihat ketika putra saya berusia 12 bulan hingga enam bulan kemudian dia didiagnosis autisme.

Dalam hati kita mungkin bertanya, mengapa bayi kecil kita yang spesial ini mudah frustasi lalu tantrum? Belakangan saya temukan jawabannya.

1. Anak mau mandiri tetapi tidak bisa

Anak autisi pada satu waktu muncul keinginan untuk mandiri. Namun, keterbatasan keterampilan motorik dan kognitif mereka, terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaannya terganggu sehingga tidak memungkinkan mereka untuk mandiri.

2. Anak tidak bisa berkomunikasi

Anak autisi pada satu titik muncul keinginan untuk mengembangkan keterampilan berbahasa. Sayangnya kebutuhan dan keinginan mereka untuk berkomunikasi yang tak bisa dilakukan membuat mereka frustasi.

3. Bagian otak anak belum berkembang

Korteks prefrontal otak anak autisi belum berkembang. Ini adalah pusat otak yang bertanggung jawab mengatur emosi dan perilaku sosial. Anak autisi tidak memiliki kemampuan untuk menguasai hal tersebut, sehingga merasa frustasi.

4. Anak cemas berlebihan

Anak autisi balita memiliki tingkat pemahaman berbeda tentang dunia mereka. Ini sering kali menimbulkan kecemasan dan kurangnya kontrol diri. Akibatnya anak rentan mengamuk ketika kucuran informasi yang masuk ke otak berlebihan atau overload, sehingga mereka tidak bisa mengelola seluruh informasi dengan baik.

Tantrum anak autisi mau pun anak normal akan terus bertahan sampai mereka mendapat perhatian atas perilakunya. Namun, tantrum akan mereda sendirinya ketika diabaikan.

Hal yang membedakan adalah tantrum anak autisi lebih lama dari tantrum anak normal. Anak normal mungkin 10-15 menit bisa berhenti, sedangkan anak autisi bisa sampai 30 menit bahkan lebih.

Saat anak normal tantrum, mereka tetap bisa mengontrol perilaku. Mereka bisa menyesuaikan tingkat tantrumnya berdasarkan feedback yang mereka terima dari orang dewasa sekitarnya. Tantrum akan hilang ketika anak mendapatkan apa yang diinginkan, atau ketika anak menyadari usahanya tidak menghasilkan apa-apa.

Anak autisi saat tantrum kesulitan mengatur emosinya. Mereka bisa menjadi impulsif, bahkan melukai diri sendiri atau orang lain di sekitarnya. Mereka bisa membentur-benturkan kepala, menggigiti tangan atau orang lain, menjambak rambut, menggaruk-garuk bagian tubuh sampai luka, dan sebagainya.

Tantrum anak autisi bisa juga dipicu overstimulasi dari luar. Dalam hal pengalaman putra saya yang tiba-tiba tantrum dan melukai diri di mal, itu bisa jadi karena dia menerima terlalu banyak stimulasi, khususnya suara-suara bervolume keras, tangkapan layar video di mal, dan aroma-aroma zat kimia dalam mal yang mungkin berasal dari parfum pengunjung, aroma masakan, bau cat, bau kemasan produk, dan sebagainya.

Ketika anak autisi menerima terlalu banyak stimulasi sensorik, sistem saraf pusat mereka kewalahan dan tidak bisa memproses semua input yang masuk. Persis seperti sedang terjebak dalam kemacetan lalu lintas yang akhirnya membuatnya stres.

Berita Terkait

Image

Cara Mengasah Keterampilan Anak Autis di Rumah

Image

Tes Covid-19 untuk Remaja Penyandang Autisme

Image

Mengapa Anak Autis Lebih Banyak Laki-Laki Ketimbang Perempuan?

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Mom blogger yang menjadikan ketiga anaknya inspirasi utama dalam menulis.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image