Jadilah Pahlawan Digital Indonesia di Hari Pahlawan

Gaya Hidup  
Foto: Pixabay

Dulu saya pernah bermimpi punya mesin sekaligus robot secanggih R2D2 di trilogi Star Wars. R2D2 adalah kopilot Luke Skywalker yang bisa melakukan aktivitas tanpa batas, termasuk bertualang lintas galaksi.

Bayangkan, film yang diproduksi akhir 1970-an itu sudah memproyeksikan kelak akan tiba masanya teknologi kecerdasan buatan (AI) memungkinkan kemampuan robot seperti R2D2 melampaui kecerdasan manusia. Ini akhirnya menjadi kenyataan.

Sebuah perusahaan teknologi asal Jepang pada 2015 berhasil membuat robot ikonik berbentuk silinder pendek beroda tiga itu bergerak dan bersuara persis seperti di film. Hanya berbekal remote control dalam genggaman, siapapun bisa mengendalikan R2D2 untuk melakukan apa saja, mulai dari berubah menjadi proyektor, kulkas mini yang mengeluarkan minuman dingin, hingga digital yang bisa memutar video dan lagu.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Manusia sekarang ibarat memasuki dunia baru bernama Planet Digital. Lingkungan kerja kita hari ini sangat berbeda dengan lingkungan kerja orang-orang 20 tahun lalu. Bukan cuma keterampilan saja yang berbeda, tetapi juga dinamika, kecepatan, dan cara kita beradaptasi.

Contoh sederhana, masih banyak orang tua zaman sekarang ingin anak-anaknya berkarier di jalur konvensional, seperti jadi pegawai negeri, guru, dokter, pegawai bank, atau pedagang, Namun, faktanya anak-anak mereka lebih memilih bekerja di bidang terkait teknologi, khususnya dunia digital.

Orang tua zaman sekarang perlu lebih proaktif mempersiapkan diri untuk dunia baru anak-anak mereka. Alasannya disrupsi digital secara fundamental telah mengubah dunia kerja. Kelak berbagai tugas dan pekerjaan manusia hari ini akan diotomatisasi mesin.

Laporan PricewaterhouseCoopers (PwC) memperkirakan sekitar 30-38 persen bidang pekerjaan di Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat rentan disapu otomatisasi oleh teknologi robotika dan kecerdasan buatan pada 2030 mendatang.

Sebagai manusia kita punya dua pilihan. Pertama, kita mencoba bersaing dan mengungguli mesin. Pilihan pertama ini menurut saya pribadi rasanya tak mungkin.

Kedua, kita perlu mendefenisikan ulang peran dan kompetensi individu. Tujuannya supaya kita bisa bekerja efektif dan beriringan dengan robot dengan kemampuan kognitif yang cerdas layaknya AI. Dengan kata lain, kita harus menemukan makna menjadi manusia di era digital.

Pahlawan Digital di Hari Pahlawan

Lima abad lalu, tepatnya 1511 ketika Portugis pertama kali mendarat di Malaka, saat itulah era penjajahan di Indonesia dimulai. Pahlawan-pahlawan kita berjuang merebut kemerdekaan dan membebaskan rakyat Indonesia dari bangsa-bangsa penjajah hingga Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.

Pahlawan zaman dahulu berjuang mengangkat senjata. Indonesia memang sudah merdeka, tetapi semangat pahlawan tak pernah mati, meski kita mewarisinya tanpa perlu bermandi darah dan air mata.

Kita bisa menjadi pahlawan digital Indonesia yang beraksi dan berkontribusi atas nama individu, perusahaan, komunitas, negara, atau dunia. Kita bisa membuat perbedaan positif, baik kecil maupun besar demi terwujudnya nilai-nilai digital baru.

Menjadi pahlawan tak harus menunggu tua. Negara ini memiliki segudang tokoh muda yang sukses membanggakan Indonesia di dunia teknologi digital.

Beberapa di antaranya adalah William Tanuwijaya (Founder Tokopedia), Nadiem Makarim (Founder Gojek), Achmad Zaky (Founder Bukalapak), Ferry Unardi (Founder Traveloka), dan Adamas Belva Devara (Founder Ruangguru).

Ada juga Alfatih Timur (Founder Kitabisa), Hendrik Tio (Founder Bhinneka.com), Shinto Nugroho (Kepala Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintahan di Google Indonesia), dan Andre Surya (animator atau digital artist di Lucasfilm Singapura).

Kesuksesan mereka tentu saja tak lepas dari perkembangan internetnya Indonesia yang kian masif. Kehadiran beragam internet service provider (ISP) turut berperan mendukung perkembangan ruang digital di Indonesia.

Data IndiHome selaku market leader fixed broadband di Indonesia misalnya, terus mencatat peningkatan kebutuhan pelanggan akan internet cepat secara nasional.

Nah, berkaca pada kesuksesan tokoh-tokoh muda di atas, saya menyimpulkan tiga tindakan utama untuk menjadi pahlawan digital Indonesia, yaitu kemauan belajar, berkreasi, dan membuat perbedaan.

1. Belajar

Belajar benar-benar mengasah keterampilan dasar. Keterampilan digital menjadi hal penting untuk dikuasai demi mencapai kesuksesan berkarier abad ini. Apalagi dua tahun terakhir Indonesia diserang Covid-19.

Kompetensi yang relevan dipelajari dan dikuasai di masa pandemi ini adalah digital. Ada lima kompetensi digital yang perlu diupayakan, mengacu pada Digcom 2.0, European Comission (2015), yaitu:

·Kemampuan mencari, memilih, memilah, mengevaluasi, dan mengelola data dan informasi.

·Kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi.

·Kemampuan menciptakan konten digital yang berkaitan dengan berbagai keterampilan.

·Kemampuan menjamin perlindungan terhadap data dan kerahasiaan.

·Kemampuan memecahkan persoalan teknis.

Literasi digital sama pentingnya dengan belajar membaca dan menulis. Masing-masing kita bertanggung jawab terhadap sikap kita yang menggunakan teknologi untuk berinteraksi dengan dunia sekitar.

2. Berkreasi

Kreasi sangat penting untuk menjadi pahlawan digital Indonesia yang bisa melakukan aktivitas tanpa batas. Ruang digital hendaknya diisi kegiatan-kegiatan kreatif dan produktif.

Sayangnya masih banyak pengguna internet di Indonesia yang sebatas mampu menerima informasi, tetapi tidak mampu memahami dan memfilter informasi tersebut secara baik Inilah alasan masyarakat kita banyak terpapar informasi tidak benar alias hoaks.

Contohnya saja akhir September lalu beredar video rekaman CCTV di Facebook menunjukkan seekor ikan hiu menggigit kabel bawah laut yang diklaim kabel Jawa, Sumatra, dan Kalimantan (Jasuka) milik IndiHome. Inilah sebab jaringan internet IndiHome drop cukup lama.

Setelah ditelusuri, video tersebut ternyata berlokasi di lautan Pasifik, bukan perairan laut Jasuka di Indonesia. Kejadian ini mengajarkan kita untuk menjadi pintar dan bijak menyikapi teknologi ruang digital. Pasalnya ada begitu banyak peluang terjadinya miskonsepsi.

Kreativitas di dunia digital akan muncul dengan sendirinya saat kita dengan senang hati melakukannya. Kita harus jeli menangkap peluang, seperti memulai bisnis dengan memanfaatkan kemudahan teknologi dan transaksi digital.

3. Berani beda

Masa depan Indonesia pasti lebih baik jika masyarakatnya mau membuat perbedaan positif. Salah satu caranya menjadi pahlawan digital di bidang yang paling kita kuasai.

Bisnis digital yang dilandasi cara berpikir maju, ide-ide baru, dan konsep antimainstream akan tampil berbeda dengan bisnis serupa lainnya.

Selamat Hari Pahlawan, 10 November 2021. Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Cara terbaik berterima kasih pada pahlawan adalah meneruskan perjuangan mereka dengan memajukan bangsa di berbagai aspek kehidupan, seperti pemerataan akses internet dan meningkatkan literasi digital masyarakat.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Istri dan ibu tiga anak, merangkap blogger, dan content writer. Sembilan tahun pernah bekerja sebagai jurnalis di salah satu media nasional.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image