Keajaiban Ramadhan dan Lebaran bagi Ekonomi Negara Mayoritas Muslim

Uang  
Ramadhan dan pertumbuhan ekonomi
Ramadhan dan pertumbuhan ekonomi

Ramadhan adalah waktu untuk refleksi dan regenerasi spritual di mana kita lebih banyak memberi makan pikiran daripada tubuh. Namun, adakah dampak Ramadhan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di negara-negara mayoritas Muslim?

Jika 1,9 miliar Muslim berpuasa di siang hari selama sebulan, jam kerjanya juga dipersingkat, maka orang yang berpikiran sempit pasti mengira ini akan memukul ekonomi dunia dan mengurangi produktivitas kerja. Namun, jika diamati dengan benar, Muslim yang sedang berpuasa justru menjadi lebih fokus pada tugas-tugas penting dan bekerja lebih baik dibanding saat sedang tidak berpuasa.

Laporan Biro Riset Ekonomi Nasional (NBEC) Amerika Serikat pada 2014 pernah melakukan riset mendalam untuk mengukur peran Ramadhan terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. Mereka menggunakan data Muslim yang berpuasa di 167 negara selama 60 tahun terakhir.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Studi yang dilakukan Filipe Capante dan David Yanagizawa-Drott ini menyimpulkan memang ada efek negatif puasa Ramadhan terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara Muslim, tetapi hal tersebut tidak terlalu signifikan. Hasil yang signifikan justru terjadi peningkatan kebahagiaan dan kepuasan hidup di kalangan Muslim.

"Sederhananya kondisi ini membuat Muslim lebih bahagia, meski secara ekonomi mereka relatif berkurang. Kedua kondisi ini dapat saling menutupi kekurangan masing-masing," tulis laporan tersebut.

Studi NBEC juga membandingkan Ramadhan yang jatuh pada musim panas dengan Ramadhan yang jatuh pada musim dingin. Mereka mengukur potensi kehilangan produktivitas pekerja selama bulan puasa.

Puasa Ramadhan di belahan bumi selatan biasanya lebih pendek, sedangkan di belahan bumi utara lebih lama. Hasilnya waktu puasa yang lebih panjang satu jam dari biasanya mengurangi output produktivitas 0,7 persen.

Studi NEBC mengatakan laporan mereka belum memperhitungkan dorongan ekonomi selama Ramadhan dan Idul Fitri di mana perputaran ekonomi signifikan, terutama di sektor perhotelan dan rekreasi. Laporan di negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara menunjukkan hampir setengah responden mengatakan mereka sama produktifnya selama Ramadhan dan hari biasa. Hampir sepertiganya mengatakan pengeluaran mereka lebih banyak di bulan suci ini.

Survei lain oleh konsultan branding Muslim, Ogilvy Noor mengatakan Ramadhan mengerek ekonomi negara non-mayoritas Muslim seperti Inggris hingga 200 juta poundsterling atau setara Rp 3,5 triliun. Belanja online salah satu stimulus utama di mana nilai transaksinya meningkat hingga 106 persen pada pekan kedua Ramadhan. Rencana traveling meningkat hingga 51 persen menjelang Idul Fitri di Timur Tengah.

Bagaimana dengan Indonesia?

Menurut laporan SurveySensum, dilansir dari Katadata menyebutkan rata-rata masyarakat menyiapkan Rp 6,9 juta untuk belanja Ramadhan 2022. Angka ini naik 10 persen dibanding Ramadhan 2020 saat pertama kali terjadi pandemi Covid-19. Angka ini juga melampaui masa pra-pandemi.

Anggaran belanja rata-rata masyarakat pada 2019 tercatat Rp 6,8 juta. Jumlahnya lalu turun menjadi Rp 6,3 juta pada 2020 dan Rp 6,2 juta pada 2021.

Sebanyak 57 persen responden mengaku mengeluarkan uang lebih banyak pada Ramadhan 2022. Hanya empat persen yang mengurangi pengeluaran, sementara 39 persen lainnya tidak mengubah pengeluaran sama sekali.

Survei oleh SurveySensum ini digelar sepanjang 25 Februari hingga 5 Maret 2022. Mereka melibatkan 1.500 responden yang tersebar di Jabodetabek, Surabaya, Medan, dan Bandung.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Mom blogger yang menjadikan ketiga anaknya inspirasi utama dalam menulis.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image